Dengerin Musik Lawas, Bisa Jadi Gaya Hidup Kekinian

Dengerin Musik Lawas, Bisa Jadi Gaya Hidup Kekinian

Kalau ada yang nanya, “Apa aja hal di dunia yang bisa nembus waktu hingga ribuan tahun?” Jawabannya bisa buku, musik, dan lain-lain. Coba sekarang kamu dengerin musik favoritmu. Kemudian 5 tahun ke depan dengerin lagi. Bagaimana kesanmu? Sama aja, kan? Itulah buktinya kalau seni musik itu sifatnya abadi.

Masalahnya ada pada label “lawas” yang bikin banyak orang mengernyitkan dahi. Seakan-akan setiap musik pada masing-masing generasi diberi jarak atau setrip. Kalau label itu dihilangin tentunya kedudukan musik lawas bisa setara dengan musik-musik jaman sekarang.

Sekali-kali kamu coba dengerin musik lawas tanpa terpengaruh label lawas, kanon, atau mungkin termutakhir. Nikmati setiap musik lawas yang kamu puter. Gimana perasaanmu? Agak baikan? Rupanya musik lawas juga punya kekuatan yang sama besarnya dengan musik yang lahir pada hari ini.

Dengan mengakrabi musik lawas lagi, sama artinya kamu belajar merawat kenangan. Kenangan itu mahal. Banyak bisa digali dari musik lawas yang kamu dengerin. Enggak semua musik jadul atau lawas itu ngebosenin, lho! Mungkin enggak se-nge-beat musik-musik saat ini. Tapi musik jaman dulu biasanya kaya akan makna yang terkandung.

Coba puterin lagunya Mariah Carey yang judulnya “Hero”. Atau dengerin lagunya Westlife yang judulnya “My Love”. Lagu itu sudah lahir puluhan tahun yang lalu. Tapi masih relevan makna dan suasana musik yang terbangun dengan apa yang terjadi pada hari ini. Yang penting itu kesannya setelah dengerin.

Atau mungkin coba dengerin karya-karya Ludwid van Beethoven. Musik klasik walau enggak ada penyanyinya toh masih asyik didengerin. Bahkan banyak di antara musik klasik yang dijadiin backsound, misalnya di film kartun “Tom and Jerry” yang banyak ngadopsi musik-musik karya Beethoven.

Di Indonesia juga punya musik lawas yang sampai sekarang masih asyik didengerin. Misalnya lagu-lagu karya Koes Ploes, kayak yang judulnya “Bis Sekolah” dan “Kolam Susu”. Atau lagu-lagu lain, seperti “Bunga di Tepi Jalan” (Sheila on 7), “Badai Pasti Berlalu” (Berlian Hutauruk), dan “Panggung Sandiwara” (Antonio & Taufi Ismail).

Musik lawas itu punya ciri khas yang enggak dimiliki oleh musik jaman sekarang. Cocok banget dinikmatin pas kamu lagi inget-inget tentang masa lalu. Atau mungkin kejadian yang sudah terjadi jauh belasan tahun yang lalu. Musik lawas itu akan bukain keran ingatanmu selebar mungkin sampai semuanya bisa kamu ambil.

Kemampuan-kemampuan seperti ini yang enggak dimiliki oleh musik-musik terkini. Jadi heran aja kalau masih ada yang ngolok-ngolok selera orang terhadap musik lawas. Tanpa adanya musik lawas, enggak mungkin ada musik terbaru. Sama seperti tanpa ada masa lalu, enggak mungkin ada masa depan. Semuanya enggak bisa dipisahkan.

Musik lawas itu penting dan perlu dilestarikan. Toh, musik jaman sekarang beberapa puluh tahun ke depan juga akan jadi musik lawas juga. Yang kadang bikin tercengang, kenapa musik lawas itu komposisi musiknya lebih rapi dan lebih enak dari musik jaman sekarang, ya? Itu tantangan musik yang lahir di jaman sekarang.

Jadi enggak bisa dinilai kalau musik lawas itu underestimated. Belum tentu musik jaman sekarang bisa bertahan lama kayak yang dimiliki oleh musik lawas itu. Coba sekali-kali kalau kamu nongkrong bareng temen-temen, puter aja musik lawas yang sudah kamu siapin. Lihat respons mereka. Pandang wajah mereka. Bagaimana hasilnya?